Sejarah Silat Bangujang
Dahulu, seorang pengembara bernama Ujang akrab dipanggil Bang
Ujang dari tanah Pasundan (Jawa Barat) yang haus akan ilmu – ilmu bela diri. Ia
sanggup mengorbankan harta benda dan sisa hidupnya demi mencari ilmu bela diri.
Ia berjalan mencari guru dengan bertarung jika ia kalah oleh seseorang maka
orang itu akan diguruinya. Sampai ia bertemu dengan seorang yang bernama Raden
Sa’id yang menjadi guru Bang Ujang.
Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalananya ke tempat –
tempat lain di Jawa ke timur hingga ia pun tiba di pulau Lombok. Di Lombok,
Bang Ujang tinggal di Ampenan dan banyak terlibat dalam pertarungan di sana
untuk mencari guru baru. Dan sampailah laporan akan kehebatan Bang Ujang pada
pemimpin Residen Lombok di bawah Kolonial Belanda yang bernama Datu Moter.
Bang Ujang pun diburon, tapi pasukan Datu Moter kalah sehingga
Datu Moter menawarkan Bang Ujang menjadi gurunya, “Anda bukan tawanan saya, tapi Anda
akan menjadi guru saya!”. Tawaran Datu Moter diterima Bang Ujang
dan ia pun ikut ke Sakra tempat Datu Moter tinggal.
Pada saat Datu Moter belajar ia memilih Mamiq Mustar yang nama
mudanya Lalu Abdul Wahid sebagai teman belajar dan latihannya. Tapi karena Datu
Moter sering sibuk karena beliau adalah seorang pemimpin, Mamiq Mustar lebih
bisa berkonsentrasi belajar.
Dan pada suatu saat Mamiq Mustar ingin bertanding ilmu dengan
saudara perempuannya sendiri Baiq Sodah yang seorang ahli zikir. Baiq Sodah
yang jengkel menerima tantangannya, “lawan saya sekalian dengan gurumu!”. Selain Bang Ujang
mencari tanding yang bisa mengalahkannya ia pun bersedia bertanding dengan Baiq
Sodah. Baiq Sodah yang seorang yang sholeha berkata, “Anda akan
terpaku di situ!”. Dengan ijin Allah, Bang Ujang tidak bisa
bergerak dan berbuat apa – apa.
Oleh karena itu, Bang Ujang yang sudah diliputi rasa malu kepada
Baiq Sodah memutuskan untuk kembali lagi ke tanah Pasundan. Tak lama kemudian
datang Surat Merah berita meninggalnya Bang Ujang.
Mamiq Mustar sendiri telah mengajarkan pencak Sasak kepada banyak
murid – muridnya dan telah menurunkan ilmu bela dirinya kepada cucu beliau yang
bernama Lalu Akub. Lalu Akub yang sekarang tinggal di desa Bungtiang memiliki
banyak murid – murid yang hebat, dari salah satu muridnya bernama Muhammad Dedy
Irawan pendiri perguruan pencak silat Sasak “Mata Pisau” dengan tujuan untuk melestarikan dan
membudayakan pencak Sasak dan Lalu Akub sebagai guru besar telah merestui
keinginan tersebut.
sumber :www.matapisau.blogspot.com
sumber :www.matapisau.blogspot.com
Sejarah Silat Bangujag Narmada
Selain di Wilayah Sakra, Silat Bangujang
juga berkembang dan diajarkan di berbagai tempat di Pulau Lombok, salah
satunya di Kecamatan Narmada. Pada awalnya pencak silat Bangujang di Desa Lembuak kecamatan
Narmada diperkenalkan oleh Amak Rawinah (alias Amak Rawet) atau yang dikenal
dengan H. Abdul Basyir. Beliau tinggal di Dusun Lembuak Barat, Desa Lembuak
Kecamatan Narmada. A. Rawinah berguru dari H. Mansur di Gegutu Kecamatan Gunung Sari. Setelah mendapatkan pelajaran ilmu silat Bangujang, barulah beliau
mengembangkan dan mengajarkannya di berbagai tempat terutama di Desa Lembuak.
Angkatan pertama sebagai murid antara lain : Amak Sayuti, H. Isa, dan lainnya.
H. Isa setelah mendapat ilmu silat dari A.Rawet merasa belum puas, pada
akhirnya ia langsung menemua guru A. Rawet yaitu H. Mansur di Gegutu. Setelah
belajar 9 bulan, H. Isa mencoba ilmu yang diperolehnya. Ia mengajak A. Rawet
untuk bertarung guna mengukur sejauh mana ilmu yang diberikan oleh H. Mansur.
Pada pertarungan itu H. Isa yang bertubuh kekar dan besar berhasil dilempar
ketengah telaga oleh A. Rawet.
Murid berikutnya pada angkata yang
kedua, adalah Aripin (Kepen), Suhirman, H. Muslim, A. Sami, A. Surya, A. Cagos dan
belakangan masuk A. Sunar. Dari murid yang ada, yang bagus gerakan dan cara
pengisiannya adalah Aripin (Kepen). Ia termasuk murid awal dan dianggap paling
menguasai ilmu silat yang diajarkan. Pada perkembangan selanjutnya, A. Sunar
melejit dan berkembang pesat kemampuan silatnya. Ia sangat kekar dan memiliki
pukulan serta cakaran yang paling kuat diantara semua murid yang ada. Ia pula
yang satu-satunya diajarkan dan menguasai jurus ke 13 yang merupakan jurus
pamungkas dan intisari dari semua jurus silat Bangujang. Beliaulah yang
kemudian meneruskan untuk mengajarkan silat Bangujang, dimana gerakan jurus
yang ada dikembangkan menjadi lebih praktis agar mudah difahami.
Pada saat masih belajar, A. Sunar
dan Suhirman sering diajak menjadi asisten jika A. Rawet membuka latihan di
tempat lain. Kedua murid ini selalu mengikuti kegiatan pembelajaran di tempat
lain seperti di Punikan, Peresak, Muhajirin dan tempat lainnya. Mereka pula
yang mengumpulkan uang dari peserta yang belajar untuk diberikan kepada sang
guru.
Pada masa berikutnya, A. Sunar
mengajarkan ilmu silat Bangujang. Beberapa kali ia mengajarkan ilmu silat
tersebut. Diantara murid yang pernah belajar adalah Rawini, Ikiati, Supratmin.
Secara terbuka juga pernah mengajarkan di halaman SMP Pancasila Narmada
walaupun hanya beberapa bulan pada tahun 1993. Murid yang diajarkan hanya
memperoleh sampai jurus 3. Setelah itu kegiatan belajar bubar. Kegiatan belajar
silatpun fakum dalam waktu yang cukup lama.
Setelah fakum lebih dari 15
tahun akhirnya pada tahun 2012 pencak
silat Bangujang kembali dihidupkan. Sebagai pencetus awal adalah Suhirman dan
Wirawan, dimana ia meminta A. Sunar untuk mengajarkan pencak silat bangujang. Awal
mula latihan dimulai pada hari kamis Tanggal 6 September 2012 bertempat di Rumah
Wirawan Suhaedi di dusun Lembuak Kebon Desa Lembuak Kecamatan Narmada. Peserta
yang mengikuti latihan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok
anak-anak dan dewasa. Pada kelompok anak-anak dibentuk ketua kelompok yaitu
Rasyid Habir didampingi oleh wakilnya yaitu Dimas. Pada kelompok dewasa, koordinatornya
adalah Wirawan dengan anggota : Suparman (LK), Irwan Rahadi(LK),
Supratman (LT), Handia Fahrurrozi, Agel, Madiatma, Mar, Rahmadi, Yusuf. Belakangan
muncul peserta dewasa baru yaitu Hamdian Zohri, Andre, Ojik, Kus dan lainnya.
Diantara semua peserta yang ada, setelah empat bulan, pada Bulan Januari 2013
yang aktif berlatih di tingkat dewasa hanya 6 orang yaitu : Wirawan, Suparman,
Irwan, Hamdia, Andre dan Ojik. Pada saat yang sama, peserta kelompok anak yang
masih aktif berlatih yaitu : Rasyid Habir, Dimas, Akbar, Zia, Hatta, Samsul, Ipan, Bahtiar, Fathul Bayan, Rifki, Husni, Bayu, Dika, Kiki, Intan, Neni, Widia, Putri,
Destia.
,mantaaaaap. terus lestarikan silat sasak
BalasHapusSemangat....bangkitkan lg pencak silat di lembuak yg pernah pudar.
BalasHapusni sy puya cabang.a bang ujang n senjata lain.a...
BalasHapuskeren abis melet berajah kadu cabang
BalasHapuskeren abis melet berajah kadu cabang
BalasHapusSalam mapis
BalasHapusAssalamualiakum pak mintak tolong nmr kontak nya biar lebih tau lokasinya maaf pak terimakasih
BalasHapus