Sabtu, 19 Oktober 2013

Sejarah Silat Bangujang Narmada



Sejarah Silat Bangujang

Dahulu, seorang pengembara bernama Ujang akrab dipanggil Bang Ujang dari tanah Pasundan (Jawa Barat) yang haus akan ilmu – ilmu bela diri. Ia sanggup mengorbankan harta benda dan sisa hidupnya demi mencari ilmu bela diri. Ia berjalan mencari guru dengan bertarung jika ia kalah oleh seseorang maka orang itu akan diguruinya. Sampai ia bertemu dengan seorang yang bernama Raden Sa’id yang menjadi guru Bang Ujang.
Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalananya ke tempat – tempat lain di Jawa ke timur hingga ia pun tiba di pulau Lombok. Di Lombok, Bang Ujang tinggal di Ampenan dan banyak terlibat dalam pertarungan di sana untuk mencari guru baru. Dan sampailah laporan akan kehebatan Bang Ujang pada pemimpin Residen Lombok di bawah Kolonial Belanda yang bernama Datu Moter.
Bang Ujang pun diburon, tapi pasukan Datu Moter kalah sehingga Datu Moter menawarkan Bang Ujang menjadi gurunya, “Anda bukan tawanan saya, tapi Anda akan menjadi guru saya!”. Tawaran Datu Moter diterima Bang Ujang dan ia pun ikut ke Sakra tempat Datu Moter tinggal.
Pada saat Datu Moter belajar ia memilih Mamiq Mustar yang nama mudanya Lalu Abdul Wahid sebagai teman belajar dan latihannya. Tapi karena Datu Moter sering sibuk karena beliau adalah seorang pemimpin, Mamiq Mustar lebih bisa berkonsentrasi belajar.
Dan pada suatu saat Mamiq Mustar ingin bertanding ilmu dengan saudara perempuannya sendiri Baiq Sodah yang seorang ahli zikir. Baiq Sodah yang jengkel menerima tantangannya, “lawan saya sekalian dengan gurumu!”. Selain Bang Ujang mencari tanding yang bisa mengalahkannya ia pun bersedia bertanding dengan Baiq Sodah. Baiq Sodah yang seorang yang sholeha berkata, “Anda akan terpaku di situ!”. Dengan ijin Allah, Bang Ujang tidak bisa bergerak dan berbuat apa – apa.
Oleh karena itu, Bang Ujang yang sudah diliputi rasa malu kepada Baiq Sodah memutuskan untuk kembali lagi ke tanah Pasundan. Tak lama kemudian datang Surat Merah berita meninggalnya Bang Ujang.
Mamiq Mustar sendiri telah mengajarkan pencak Sasak kepada banyak murid – muridnya dan telah menurunkan ilmu bela dirinya kepada cucu beliau yang bernama Lalu Akub. Lalu Akub yang sekarang tinggal di desa Bungtiang memiliki banyak murid – murid yang hebat, dari salah satu muridnya bernama Muhammad Dedy Irawan pendiri perguruan pencak silat Sasak “Mata Pisau”  dengan tujuan untuk melestarikan dan membudayakan pencak Sasak dan Lalu Akub sebagai guru besar telah merestui keinginan tersebut.
sumber :www.matapisau.blogspot.com 
 

Sejarah Silat Bangujag Narmada

Selain di Wilayah Sakra, Silat Bangujang juga berkembang dan diajarkan di berbagai tempat di Pulau Lombok, salah satunya di Kecamatan Narmada. Pada awalnya pencak silat Bangujang di Desa Lembuak kecamatan Narmada diperkenalkan oleh Amak Rawinah (alias Amak Rawet) atau yang dikenal dengan H. Abdul Basyir. Beliau tinggal di Dusun Lembuak Barat, Desa Lembuak Kecamatan Narmada. A. Rawinah berguru dari H. Mansur di Gegutu Kecamatan Gunung Sari. Setelah mendapatkan pelajaran ilmu silat Bangujang, barulah beliau mengembangkan dan mengajarkannya di berbagai tempat terutama di Desa Lembuak. Angkatan pertama sebagai murid antara lain : Amak Sayuti, H. Isa, dan lainnya. H. Isa setelah mendapat ilmu silat dari A.Rawet merasa belum puas, pada akhirnya ia langsung menemua guru A. Rawet yaitu H. Mansur di Gegutu. Setelah belajar 9 bulan, H. Isa mencoba ilmu yang diperolehnya. Ia mengajak A. Rawet untuk bertarung guna mengukur sejauh mana ilmu yang diberikan oleh H. Mansur. Pada pertarungan itu H. Isa yang bertubuh kekar dan besar berhasil dilempar ketengah telaga oleh A. Rawet.

Murid berikutnya pada angkata yang kedua, adalah Aripin (Kepen), Suhirman, H. Muslim, A. Sami, A. Surya, A. Cagos dan belakangan masuk A. Sunar. Dari murid yang ada, yang bagus gerakan dan cara pengisiannya adalah Aripin (Kepen). Ia termasuk murid awal dan dianggap paling menguasai ilmu silat yang diajarkan. Pada perkembangan selanjutnya, A. Sunar melejit dan berkembang pesat kemampuan silatnya. Ia sangat kekar dan memiliki pukulan serta cakaran yang paling kuat diantara semua murid yang ada. Ia pula yang satu-satunya diajarkan dan menguasai jurus ke 13 yang merupakan jurus pamungkas dan intisari dari semua jurus silat Bangujang. Beliaulah yang kemudian meneruskan untuk mengajarkan silat Bangujang, dimana gerakan jurus yang ada dikembangkan menjadi lebih praktis agar mudah difahami.

Pada saat masih belajar, A. Sunar dan Suhirman sering diajak menjadi asisten jika A. Rawet membuka latihan di tempat lain. Kedua murid ini selalu mengikuti kegiatan pembelajaran di tempat lain seperti di Punikan, Peresak, Muhajirin dan tempat lainnya. Mereka pula yang mengumpulkan uang dari peserta yang belajar untuk diberikan kepada sang guru.

Pada masa berikutnya, A. Sunar mengajarkan ilmu silat Bangujang. Beberapa kali ia mengajarkan ilmu silat tersebut. Diantara murid yang pernah belajar adalah Rawini, Ikiati, Supratmin. Secara terbuka juga pernah mengajarkan di halaman SMP Pancasila Narmada walaupun hanya beberapa bulan pada tahun 1993. Murid yang diajarkan hanya memperoleh sampai jurus 3. Setelah itu kegiatan belajar bubar. Kegiatan belajar silatpun fakum dalam waktu yang cukup lama.

Setelah fakum lebih dari 15 tahun  akhirnya pada tahun 2012 pencak silat Bangujang kembali dihidupkan. Sebagai pencetus awal adalah Suhirman dan Wirawan, dimana ia meminta A. Sunar untuk mengajarkan pencak silat bangujang. Awal mula latihan dimulai pada hari kamis Tanggal 6 September 2012 bertempat di Rumah Wirawan Suhaedi di dusun Lembuak Kebon Desa Lembuak Kecamatan Narmada. Peserta yang mengikuti latihan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok anak-anak dan dewasa. Pada kelompok anak-anak dibentuk ketua kelompok yaitu Rasyid Habir didampingi oleh wakilnya yaitu Dimas. Pada kelompok dewasa, koordinatornya adalah Wirawan dengan anggota : Suparman (LK), Irwan Rahadi(LK), Supratman (LT), Handia Fahrurrozi, Agel, Madiatma, Mar, Rahmadi, Yusuf. Belakangan muncul peserta dewasa baru yaitu Hamdian Zohri, Andre, Ojik, Kus dan lainnya. Diantara semua peserta yang ada, setelah empat bulan, pada Bulan Januari 2013 yang aktif berlatih di tingkat dewasa hanya 6 orang yaitu : Wirawan, Suparman, Irwan, Hamdia, Andre dan Ojik. Pada saat yang sama, peserta kelompok anak yang masih aktif berlatih yaitu : Rasyid Habir, Dimas, Akbar, Zia, Hatta, Samsul,  Ipan, Bahtiar, Fathul Bayan, Rifki, Husni, Bayu, Dika, Kiki, Intan, Neni, Widia, Putri, Destia.

Latihan dilaksanakan 3 kali dalam seminggu yaitu pada Malam Jumat, Malam Minggu dan Malam Selasa. Latihan dimulai setelah solah Isya untuk anak-anak sampai jam 21.30, setelah itu dilanjutkan dengan latihan kelompok dewasa sampai jam 23.30. Jadwal khusus untuk beberapa orang peserta dewasa dilaksanakan setiap malam Kamis di rumah Suparman.

7 komentar:

  1. ,mantaaaaap. terus lestarikan silat sasak

    BalasHapus
  2. Semangat....bangkitkan lg pencak silat di lembuak yg pernah pudar.

    BalasHapus
  3. ni sy puya cabang.a bang ujang n senjata lain.a...

    BalasHapus
  4. keren abis melet berajah kadu cabang

    BalasHapus
  5. keren abis melet berajah kadu cabang

    BalasHapus
  6. Assalamualiakum pak mintak tolong nmr kontak nya biar lebih tau lokasinya maaf pak terimakasih

    BalasHapus